fbpx

Pada pembelajaran daring, seorang guru memberikan tugas melalui grup whatsApp. (1)Guru: “Anak-anak, silakan kerjakan tugasnya sekarang!” (2)Siswa: “Tidak diterangkan materinya dulu, Pak?” (3)Guru: “Kalian cari saja materinya di youtube atau google ya.” (4)Siswa: “Kalau begitu, lebih baik saya belajar jadi cenayang agar bisa menerawang materi.” (5)Guru: “Saya juga mau belajar jadi badut saja.” (6)Siswa: “Kok badut, Pak?” (7)Guru: “Iya, agar bisa menyulap nilai kalian.” Unsur kelucuan dalam teks anekdot tersebut dibuktikan dengan dialog bernomor

Pada pembelajaran daring, seorang guru memberikan tugas melalui grup whatsApp.
(1)Guru: “Anak-anak, silakan kerjakan tugasnya sekarang!”
(2)Siswa: “Tidak diterangkan materinya dulu, Pak?”
(3)Guru: “Kalian cari saja materinya di youtube atau google ya.”
(4)Siswa: “Kalau begitu, lebih baik saya belajar jadi cenayang agar bisa menerawang materi.”
(5)Guru: “Saya juga mau belajar jadi badut saja.”
(6)Siswa: “Kok badut, Pak?”
(7)Guru: “Iya, agar bisa menyulap nilai kalian.”

Unsur kelucuan dalam teks anekdot tersebut dibuktikan dengan dialog bernomor

Unsur kelucuan dalam teks anekdot tersebut dibuktikan dengan dialog bernomor (4), (5) dan (7).

Untuk memahami alasannya, mari simak pembahasan berikut.

Teks anekdot adalah cerita singkat lucu yang digunakan untuk menyampaikan kritik melalui sindiran, serta berisi pendidikan atau petuah kehidupan berdasarkan kejadian nyata atau fiksi.

Anekdot memiliki ciri khas yaitu bersifat lucu dan satiris atau mengundang sindiran.

Unsur kelucuan dalam teks anekdot tersebut dibuktikan dengan dialog bernomor (4), (5) dan (7) karena mengandung unsur humor dan mengundang sindiran.
(4) Siswa: “Kalau begitu, lebih baik saya belajar jadi cenayang agar bisa menerawang materi.”
(5) Guru: “Saya juga mau belajar jadi badut saja.”
(7) Guru: “Iya, agar bisa menyulap nilai kalian.”

Dengan demikian, unsur kelucuan dalam teks anekdot tersebut dibuktikan dengan dialog bernomor (4), (5) dan (7).

Semoga membantu ya 😊